Wednesday, May 29, 2013




                 

PURA  PASEK WANAGIRI.
 
                                             

                                                                   






OM SWASTYASTU
OM BRAHMAN ATMAN

            Puja dan puji menggapai keagungan Tuhan Yang Maha Esa  Ida Sanghyang Widhi Wasa, para leluhur tumpuan segala sembah dan bakti atas  karuniaNYA. Terlebih dahulu saya memohon ampun kepada Para leluhur yang telah suci yang berstana di sunia loka, karena saya telah menulis dan menyebut nama beliau serta menceritrakannya  semoga tiada halangan dan tiada kena tulah cakra bawa.

            Disebuah desa berlokasi dikaki  Gunung Batukaru berdiri sebuah Pura yang kuno dan sederhana, yang alami dan asri tanpa ada sentuhan kemajuan jaman. Tapi bukan berarti tidak ada dana untuk itu. Walaupun demikian pura ini memiliki karisma yang sangat istimewa, seperti yang dituturkan oleh para guru spiritual dan penekun spiritual dari berbagai wilayah di Bali, bahkan dari manca negara, menyatakan  bahwa Pura ini sangat baik dipakai untuk meditasi.
        Sejarah pura ini, sesuai dengan ceritra rakyat/tutur turun temurun dari pengelingsir yang diyakini kebenarannya secara turun temurun. Pura ini sangat tua dan unik dilihat dari bentuk pura, keberadaan pohon kamboja yang sangat tua bahkan diperkirakan berabad-abad, pohon bunga soka asti yang sangat besar seperti pohon kayu serta dikelilingi oleh pagar hidup yang masih alami yang dipertahankan berabad-abad tanpa ada perubahan yang berarti.
            Secara garis besar pura ini dibagi menjadi 3 pelebah yaitu sebelah Timur adalah (Pura Kanginan/ Pura Ciwa, dan Kawitan) disebelah Barat adalah Pura Kauhan dan disebelah Utara adalah Pura Kadia (Pura Ibu) ”Pemujaan Purusa Peredana/Ciwa Buda“ dan  dikelilingi oleh Bebaturan–Bebaturan yaitu disebelah Utara ada 6 baturan yaitu Pujutaya, Tamblingan, Gunung Majapahit, Baturangka, Bejugul, Batur Sangket. Disebelah Timur ada 1 baturan yaitu Jero Pajahan, disebela Tenggara ada 1 baturan yaitu  batur Bolong, disebelah Barat ada 1 baturan yaitu Batur Dukuh Sakti, disebelah Bawah Baturan Dukuh Sakti ada tempat namanya Beji dan Pangkung Nyuargan yang difungsikan untuk nunas Tirta Penembak dan disebelah Selatan di pinggir sungai ada 1 baturan yaitu Baturan  Jero Pauman. Dan ini merupakan satu kesatuan yang utuh.
            Keunikan lainnya Pura Kauhan mempunyai 2 pemedalan (pintu)  yaitu masuk dari sebelah barat  dan keluar/tembus di timur menuju Pura Siwa, bangunan  pelinggih berbentuk sederhana tanpa diukir berdiri diatas pondasi dari batu dan dilem dengan tanah tanpa memakai semen / pese. Ada 4 buah pelinggih yang tidak berisi pintu/terbuka  begitu pula ada bangunan yang tidak seperti pura-pura umun lainnya yaitu Bale Truna, Bale Agung Kembar, Bale Manik , lantai tidak memakai pese tapi diisi batu yang dilem dengan tanah dan dipagari oleh pagar hidup tidak ditembok dengan menggunakan batu cadas atau beton. Tidak ada bale kulkul khusus namun kulkul ditaruh di bale agung kembar, tidak ada meru dan  Padma sana .Ketika saat piodalan dibuatlah  2 buah penjor yaitu penjor desa dan penjor truna, penjor truna dibuat dari 3 buah bambu diikat menjadi satu dan hiasan penjor dibuat dari paku emas, paku pajeng yang diperoleh dengan mencari di Gunung Batukaru.
            Setiap upacara/ pemujaan selalu diawali oleh dea dan truna.  Lama piodalan minimal  5 hari maksimal 11 hari, entah apa yang melatar belakangi dahulu pura ini disebut puri,  pura kanginan disebut puri kanginan pura kauhan disebut puri kauhan dan pura kadia disebut puri kadia.
        Tepatnya Pura Pasek Wanagiri berlokasi diwilayah Dusun Wanagiri, Desa Wanagiri, Kecamatan Selemadeg, Kabupaten Tabanan Propinsi Bali – Indonesia. Berada 14 km ke utara dari kota kecamatan selemadeg yaitu Bajera atau kurang lebih 5 km sebelah selatan Pura Jati Luih Sarinbuana yang berada dikaki gunung Batukaru. Pura ini diempon oleh 1 Desa Pakraman Wanagiri dan 4 tempek yaitu tempek Dusun Sawah, Dusun Mendek dan Dusun Sarinbuana dengan  283 kk serta memiliki sisia hampir dari berbagai wilayah di Bali dengan jumlah penyiwi kurang lebih 1500 kk.
            Pura ini tidak ada yang tahu tahun berapa berdirinya sangat sedikit sumber maupun catatan, pengkajian
menyangkut pendirian pura ini seiring tuanya pura ini Sumber  yang  dapat dikumpulkan melalui penuturan dari pemuka masyarakat, pemangku pura, pengelingsir, bentuk pelinggih dan tatanan  upacara yang sangat berbeda dengan tatanan  secara umun sehingga prajuru pura sangat hati-hati untuk menerima perubahan atau tatanan baru untuk diterapkan di pura ini. Tatanan ini yang diyakini kebenarannya secara turun temurun oleh masyarakat pekandel dan penyiwi tanpa ada bukti tertulis/prasasti. Tapi akhirnya ditemukanya  sebuah lontar yang dimiliki oleh Pak Sudarsana yang bertempat di desa Kapal Badung yang satu-satunya sumber tertulis yang ada kesamaannya dengan pakta dilapangan untuk dipakai salah satu acuan tertulis.
 

Bisama Pasek Wanagiri yang disalin sesuai dengan aslinya.
Adapun bunyi lontar yang berisi bhisama pasek Wanagiri  tersebut yang telah disalin oleh Pak Sudarsana sbb;    


 20a. Rikaswenia ring kana sira Pasek Wanagiri, anglaraken ikang Bali Yoga, pingkalih ta sira annawe ikang salu mapanjang,  maka genah ikang wong manusha angadakaken samwa, ring subha dewasa hayu, duking mangkana , mareng panagareng Wanagiri kajatah smat katekeng dlaha.

23b. Amanggehhaken ikang Bali Yoga, tan kajamah dening tataning jawa Dwipa, matangie ring pradesa ika  wonging Bali Yoga,  apan amukti kawaning agalah sira. Pasek Wanagiri.

25a. Rikaswen-swen sira Pasek Wanagiri, apan  kawit sira saking Mpu Ketek, maka Mpu pinih luhur, hana  bhisamanie Mpu Ketek : Ih kita Pratisantananku, mangaran kita Pasek Wanagiri, aywa aja kita Pasek  Wanagiri, aywa aja kita lali kahyanganku, kahyangan kaluhuran ta, hana mareng Lempuyang Madya, mwanghelingakna, kahyanganku mareng Catur Lawa Besakih, apan ika  kaluwuranta nggawe. Ta pinih  bobot wenang kengetakna denta parhyangan ta binawa mareng bebatuan- batuan........

26a. Mangke hana ta wuwus sira Pasek Wanagiri, maring pratisantanania, ta kajatah smat, ring panagareng Wanagiri, apan kita kalawan aku, anglaraken Bali Yoga, tan kahananing kahyangan tiga, apan aku rumawaking Sanghyang Siwa Tiga, ingkana ta  sira mareng kahyangan kang ginawa maring aku, ingkana ta sira mareng kahyangan kang ginawa maring aku, ingkana ta sira ngastawa astithi bhakti mareng bhatare kabeh, yaning mangkana ulah ta dirghayusha, tan kagadur dening rug ikang jagat, mangkana piteket ku maeng kita sadaya......

26b. Ih kita Pasek Wanagiri, aku tan wania maring kita, nimitania kengetakra linghing tithi kegaduhan, brahmana tosin kita  maring raja purana, alinggih ri jeng Bhatara jumeneng ring Bali, aku lawe indik kita sumampad ikang utpeti, apan kita maka punggungi Bali kulon, mangkana sojarku...

28a. Mangke hana wuwusku mareng kita sadaya, tekeng pratisantananku, katekeng dlaha pagehana ikang Bali yoga, aywa kita  aturun-turun wong len. Aku tangawase amagehaken kita manca ring Bali kulon, mangkana helingakna pawekasku, nimitania anindihaken Bhatara, mene ling ngku kita makabehan, yan mangkana aneda adnya sang Abra sinuhun tekeng hredaya....

                                                                        ( I Ketut Sudarsana ).

Poin pokok dari terjemahan diatas adalah sbb:

1. Mengajegkan tatanan Bali Yogha/ bali kuna.
2. Memiliki pemujaan Ciwa  niskala
3. Keturunan Brahmana jati
4. Memiliki pelinggih nyatur desa.
5. Karena mengajegkan Bali Yogha maka dari tempat ini sudah cukup bagimu dan keturunanmu memuja Hyang  Betara dan  kawitanmu janganlah merubah tata cara ini.
6. Pasek Wanagiri dibebaskan dari pajak/ upeti karena sangat memperhatikan penduduk sekitarnya dan  dengan  hati yang  teguh mengajegkan sistim Bali kuna dengan tanda- tandanya memiliki bale panjang / baleagung digunakan sebagai tempat  rapat
7. Tidak kena pengaruh Jawa
8. Perhyangan dibuat dari batu/ bebaturan
9. Tidak memiliki kahyangan tiga secara khusus karena meraga Sanghyang Ciwa tiga yang artinya kekuasaan tuhan secara  vertikal dan horisontal
   Vertikal ==  Ciwa – Sada Ciwa – Prama Ciwa( Tri purusa)
   Horisontal == Brahma- Wisnu- Ciwa ( Tri murti)   
10. Ada pelinggih Raja Utama menurut Lontar Tangkeb Langit  Raja Utama = Tri murti.
11. Hai engkau sekalian keturunanku, wajib engkau termasuk sanak keturunanmu sampai kelak dikemudian hari mengajegkan Bali yoga di pura ini,  Jika engkau lalai dan tidak patuh atas perintahku ini engkau tidak lagi sebagai keturunanku.
12. Penguasa Bali Barat.     


Sesungguhnya melestarikan pura ini tetap asli sangat sulit ketika derasnya modernisasi  untuk itu penulis  mencoba untuk memberikan landasan berpikir kenapa pura kita ini perlu dilestarikan/ diajegkan/dipertahankan. 

Perlu kita sadari, bahwa landasan bakti kita bukan semata-mata berdasarkan  sastra yang tertulis saja tapi kita harus mengacu pada:

I. Ada lima sumber hukum hindu yaitu :
1. Weda.
2. Smerti/ dharma sastra.
3. Sila/ tinggkah laku yang baik.
4. Acara / tradisi yang baik
5. Amanastuti/ keheningan hati.

II. Begitu pula orang bijaksana mengatakan ada 4 cara untuk mewujudkan rasa bakti   kita kepada Tuhan/ leluhur yaitu:
1. Arcanam
2. Pralinggam.
3. Pratimam
4. Atmanam
Dari hal diatas, bahwa leluhur kita lebih menekankan pada Atmanam/atmanastuti/ keheningan hati.

III. Rig Veda 53.6.( Semoga  Engkau melindungi tradisi-tradisi yang mulia  yang didirika oleh para leluhur).

IV. Weda Smerti bab 3 sloka 207 ( Roh leluhur selalu senang dengan persembahan  yang dilakukan di Alam  terbuka ditempat  suci yang  alamiah   pada tepi sungai dan di tempat-tempat terpencil).

V. Kesan dari penekun spiritual  yang pernah melakukan meditasi di pura ini yang datang dari berbagai wilayah  di Bali bahkan dari  manca negara, pada akhir kunjungan  terucap kata kagum, bahagia, senang, nyaman, lestari, sejuk diiringi tangis kebahagiaan yang dapat menyentuh dasar hati mereka yang paling dalam tat kala sedang sembahyang. Kekaguman itu bukanlah karena kemegahan pagar lantai yang bermarmer, ukiran pelinggih yang berukir dan bercat perada termahal tapi karena keasrian, keaslian pura dengan tumbuhan kamboja yang sangat tua serta energi spiritual yang sangat kuat.

VI. Pandangan- pandangan dari berbagai kalangan.
1. Drs I Wayan Tontra mantan Sekretaris Parisada Hindu Dharma Kabupaten Tabanan.
2. Guru spiritual dari Jerman Barbara Thomas Saint Claude.
3. Guru spiritual dari Ubud Pak Wayan Sudarsana.
4. Maha Guru Asram Lembah Bayam Penebel Pak Wayan Sujaya, SAg.
5. Ir I Wayan Gelebet pengamat tata ruang Bali.
6. DR Ir Wayan Runa MT Dosen Senior Jurusan Arsitektur Bali Fakultas Tekhnik UNWAR Denpasar.
7. Ir Made Widnyana Sudibya Ketua Ikatan Arsitektur Indonesia.
8. Ki Surya Sri Wilatikta Brahma Raja XI trah Majapahit yang berbiseka Raja Majapahit ke 9 yang bergelar Sri  Wilatikta Brahmaraja ke11.
9. Bisama Pasek Wanagiri dalam lontar tentang pasek Wanagiri oleh Sudarsana Kapal Badung.
10. Tim dari Departement Agama Kab Tabanan dalam rangka pendataan pura-pura tua,
11. Dharma wacana dari Ida Pedanda Made Gunung tentang kekuatan Ibu pertiwi disarankan pelemahan pura agar tidak disemen dan berpungsi untuk penyerapan.
12. Seorang Rsi dari Tinungan Penebel Warga  Wanagiri harus mengajegkan apa yang telah diwariskan dan tidak meniru-niru orang lain.

        
Adapun isi pandangan beberapa tokoh yang dipetik dari koran Bali Post.
PANDANGAN PARA TOKOH BALI TENTANG PEMUGARAN PURA  DI BALI.

{Bali Ritus Ruang dan Asitektur}

1. Menurut Ir I Made Widnyana Sudibya. Ketua Ikatan Arsitek Indonesia Pemu-garan Pura di Bali banyak yang mengabaikan Filsafat, Tatwa, dan Pakem Adat dan Tradisi  Pemugaran Pura cendrung untuk kemegahan Arsitektur pura yang dibangunpun sering diubah dari aslinya. Mereka suka menambah Meru yang dulunya tak ada  dan menggeser pelinggih lain dengan alasan agar halaman sembahyang lebih luas namun melupakan sikut kuno yang harus diwarisi.
2. Menurut, DR Ir I Wayan Runa MT. Dosen Senior Jurusan  Arsitektur Bali  FT UNWAR. Saat ini Pura dibangun asal megah  Mereka melupakan asal mula proses pura tersebut.
3. Menurut, Ir Nyoman Gelebet. Pengamat Tata Ruang Bali. Dulu leluhur kita tak pernah mengatur pura tertentu harus dilengkapi dengan bangunan yang tak perlu. Kita harus mencegah rusaknya tatanan Parahyangan, pudarnya Karisma pura dan Taksu Pura dengan dalih Pemugaran, Pengembangan, maupun pembangunan. Pembangunan Pura Menggunakan Sastra, Deresta, Ilikita, dan Pesuara Harus dipertahankan.
 

SUMBER : BALI POST, 27 APRIL 2006.

                                    Dipetik oleh Drs I Nyoman Suirawan Giri

Semoga  atas rahmat dari leluhur, sesuhunan kita dan Tuhan kita tetap teguh mengajegkan seluruh tatanan yang  ada di Wanagiri. Tanpa restuNYA kami tidak akan dapat melakukan semua ini.

                                                          Om Satya Dharma Shanti

                                        (semoga kita semua bisa selalu hidup dalam kasih Tuhan.)

                                                  Ditulis oleh Drs I Nyoman Suirawan Giri

Tentang penulis.

1. Guru SMP Negeri 1 Selemadeg 1981-2003
2. Kepala SMP Negeri 2 Selemadeg 2003-2006.
3. Guru SMA Negeri 1 Selemadeg 2006 sampai sekarang.
4. Sekretaris II. Pura pasek  Wanagiri 1993- 1996
5. Bendahara Pura Pasek Toh jiwa Wanagiri 1996 – sekarang.
6. Team penyusun diktat susunan pelinggih, dudonan, upacara, piodalan dan kepengurusan Pura Pasek Toh   Jiwa  Wanagiri.

                                                    Editor : I Made Sumerta Yasa 28 Mei 2013          




Saturday, May 21, 2011


Pura Pasek Wanagiri Selemadeg Tabanan Bali
Sumber : Tim Pengurus Pura, Dharmatula 1 Mei 1994
Editor : Made Sumerta Yasa

I. 






PENDAHULUAN

1. Maksud dan Tujuan
Maksud penulisan naskah ini adalah untuk memberikan gambaran tentang pokok-pokok susunan pelinggih-pelinggih yang melingkupi pura, dudonan/pailen upacara piodalan yang dilaksanakan secara periodik tradisional berikut kepengurusan pura sejak dahulu hingga sekarang.
Tujuan yang diharapkan adalah memperdalam pengenalan dan pemahaman mengenai situasi dan keadaan pura dalam rangka meningkatkan keimanan/kepercayaan kepada Ida Sanghyang Widi Wasa dan roh suci leluhur keluarga besar Pasek Wanagiri, melalui peningkatan mutu kebaktian umatnya berdasarkan ajaran agama Hindu yang benar.
2. Ruang Lingkup dan Sistimatika
Ruang lingkup tulisan ini terbatas mengenai hal ikhwal Pura Pasek Wanagiri dari sudut pandang dan pemikiran yang sederhana sehingga tidak sulit untuk dimengerti oleh kalangan umat yang luas. Keterbatasan mengenai referensi, nara sumber yang dapat dipercaya serta kemampuan teknis menulis penyusun naskah ini terlebih dahulu harus diakui. Namun betapapun keterbatasannya, diharapkan tidak akan mengurangi arti makna perlunya penulisan ini, khususnya bagi para penyiwi pura yang bersangkutan.
3. Dasar-dasar
a. Wujud nyata/fisik pura beserta pelinggih-pelinggih dan dudonan upacara piodalan yang dilaksanakan secara periodik tradisional.
b. Pokok-pokok kesimpulan Dharmatula tanggal 1 Mei 1994 yang dihadiri sejumlah besar wakil-wakil Dadia Penyiwi Pura.
II. SUSUNAN PELINGGIH-PELINGGIH PURA
1. Status dan Areal Lahan “Druwen” Pura
Pada dasarnya Pura Pasek Wanagiri berstatus pura kawitan yang disungsung oleh segenap warga keluarga besar keturunan Pasek Wanagiri, baik yang merupakan pekandel maupun yang penyiwi (berdomisili di luar wilayah Desa Wanagiri).
Namun di lain pihak juga berfungsi sebagai Kahyangan Tiga Desa karena ada Pelinggih Bale Agung, Puseh dan Dalem meskipun keadaannya tidak sesuai benar dengan keadaan Kahyangan Tiga Desa pada umumnya.
Keseluruhan Pura berada di atas lahan berstatus “Duwen Pura” seluas ± 6.005 Ha, sebagian berupa hutan dan sebagian lahan perkebunan yang digarap oleh beberapa orang penggarap.
2. Bagian-bagian/Pengelompokan Pura
Pura yang terdiri dari tidak kurang dari 28 buah bangunan pelinggih dan bebaturan batu dapat dibagi dalam beberapa komplek pura, yaitu :
a. Pura Kanginan (Siwa) dengan pelinggih :
1. Siwa (Ida Ratu Gede Raja Gunung)
2. Bale Manik
3. Kawitan/Duwur Kangin
4. Bagus Wayan
5. Bagus Made
6. Beberapa Baturan
b. Pura Kauhan, dengan pelinggih-pelinggih :
1. Ida Ratu Gede Raja Utama
2. Ratu Pasek
3. Geria/Bujangga
4. Ratu Dalem
5. Simpangan Majapahit
6. Sedahan Degdeg
7. Ratu Gede Duwur
8. Simpangan Pauman
9. Naga Besukih
10. Bale Teruna
11. Bale Agung
12. Ratu Nyoman
Disamping itu ada juga bangunan :
1. Bale Pegat
2. Bale Gong
3. Pewaregan
4. Gudang Pesimpenan
c. Pura Kadia/Panti Ibu
1. Kahyangan Ibu
2. Taksu
3. Piasan
4. Jero Nyoman
Disamping itu ada juga bangunan :
1. Wantilan
2. Pewaregan
Diarah utara dan barat laut Pura Kadia/Ibu tersebar Bebaturan :
1. Baturan Pujut Aya
2. Baturan Tamblingan
3. Baturan Gunung Majapahit
            4. Baturan Baturangka
5. Baturan Bejunggul
6. Baturan Sangket
7. Baturan Dukuh
d. Pura Pajahan dengan Bebaturannya
e. Pura Pauman dengan Bebaturannya
3. Denah Pura dan Bentuk Bangunan Pelinggih-pelinggih
Pandangan cepat terhadap keseluruhan pelinggih pura akan mengesankan kepada kita adanya tataletak yang bersifat “padma bhuwana” dan “nyatur desa”. Letak Pura Kanginan (Siwa) sebagai pusat dikelilingi oleh Pura Pajahan yang letaknya di sebelah timur, Pura Pauman yang letaknya di sebelah selatan, Pura Kauhan yang letaknya di sebelah barat, Pura Kadia dengan jajaran bebaturan di sebelah utara dan barat laut yang letaknya di sebelah utara.
Tata letak yang demikian itu mengingatkan kita kepada tataletak Kahyangan Jagat Pura Besakih sebagai pusatnya.
Bentuk bangunan pelinggih, sebagian berupa bangunan Gedong bertiang kayu beratap ijuk dan bebaturan-bebaturan dari tumpukan batu yang direkat tanah, yang melambangkan gunung, sebagai ciri khas bangunan pemujaan roh-roh suci pada zaman pra Hindu di Bali. Tidak ada bangunan Padmasana dan Meru.
4. Fungsi-fungsi Pura/Pelinggih tertentu
Berdasarkan penuturan para pengelingsir Pura, diketahui adanya fungsi-fungsi Pura sebagai berikut :
a. Pura Kanginan (Siwa) adalah stana/linggih Ida Ratu Gede Raja Gunung, berfungsi sebagai tempat memohon Pemuput dan Pengentas/Pemurwa.
b. Pura Kauhan adalah stana/linggih Ida Ratu Gede Raja Utama, berfungsi sebagai tempat memohon Pemepek.
c. Pura Kadia/Ibu adalah stana/linggih Hyang Ibu, berfungsi sebagai tempat memohon Penyambutan dan Nakti (mohon agar punya anak)
d. Pura Pauman adalah stana/linggih Ratu Nyoman Arak Api, berfungsi sebagai tempat memohon keselamatan jika terjadi keadaan genting (tidak aman) dan berjangkit wabah dan lain-lain mapetaka besar.
e. Pura Pajahan adalah stana/linggih Ratu Gede Pajahan, berfungsi sebagai tempat memohon kesidian atau keberhasilan unen-unen.
Secara khusus :
a. Baturan Tamblingan adalah stana/linggih Ratu Tamblingan berfungsi sebagai tempat memohon kekuatan atau keselamatan untuk menghadapi musuh.
b. Pelinggih Bujangga (di Pura Kauhan) adalah stana/linggih Ida Pedanda Putus, berfungsi sebagai tempat memohon penugrahan.
c. Pesimpangan Majapahit (di Pura Kauhan) adalah stana/linggih Ayu Mas Majapahit, berfungsi sebagai tempat memohon petunjuk membuat banten atau mejejahitan.
III. DUDONAN DAN JALANNYA UPACARA PIODALAN
1. Uger-uger / Ketentuan hari Piodalan
Hari piodalan/pujawali di Pura ditetapkan berdasarkan uger-uger Sasih, pada “Purnamaning Sasih Kapat” (mupu kembang) hari piodalan di Pura Kanginan dan pada “Purnamaning Sasih Kedasa” piodalan di Pura Kauhan. Dengan demikian sesungguhnya upacara piodalan dilangsungkan setahun sekali, namun karena uger-uger untuk 2 pura, maka upacara piodalan berlangsung setiap 6 bulan sekali, dengan catatan bahwa upacara dan upacaranya tidak berbeda. Lamanya pelaksanaan piodalan antara 5 sampai 11 hari.
2. Dudonan/Pailen Upacara Piodalan
a. Tahap awal/Utpati :
1). Medatengan
2) .Mesaudan
3) .Nyapsap/Nyepuh/Makelemigi
4) .Mendak Betara
5) .Nyiramang (ke Beji/Segara)
6) .Ngelinggihang
7) .Menek Base
b. Tahap Pemeliharaan/Stiti
1) .Menek Banten
2) .Negtegang/Menbenang
3) .Ngeseh Banten
4) .Negtegang/Menbenang
5) .Betara Mepica
6) .Betara Makenak-kenakan
c. Tahap Akhir/Pralina
1) .Numbak Dewa
2) .Muspa Umum (Tri Sandya, Panca Sembah)
3) .Kincang-kincung
4) .Numbak Desa
5) .Ngabuang
6) .Ngelebar/Ngeluarang
3. Jalannya Upacara Piodalan
a. Upacara Medatengan dilakukan pada hari Tilem (Sasih Kapat/Sasish Kedasa) bertempat di Bale Teruna dan Bale Agung Pura Kauhan. Masing-masing Kerama Pekandel membawa Canang Ketipat dan pepeson berupa Kalbase, Kelapa, dll. Kerama memotong Babi Hitam untuk bahan upakara “Datengan” yang jumlahnya tertentu digelar di Bale Agung. Pimpinan Upacara, Pemangku, Prajuru Catur dilanjutkan dengan persem-bahyangan umat kerama pura, dengan maksud mohon keselamatan kepada para Patih dan Iringan Betara dalam pelaksanaan karya selanjutnya.
b. Pada hari piodalan (bulan Purnama) diadakan Upacara Mesaudan di Pelinggih Utama, yang bermaksud sebagai piuning kehadapan Ida Betara, bahwa upacara piodalan dimulai.
c. Selanjutnya dilakukan upacara Makelemigi/Nyapsap/Nyepuh Kahyangan yang dirangkaikan dengan upacara Metanginin/Nuhur Betara untuk dihaturi / diiring masucian ke Beji atau Segara.
d. Kedatangan dari Beji/Segara, di Jabaan Pura Ida Betara dipapag dengan upakara Segehan Agung/Tetabuhan dan Tari Pendet Pemendak. Setelah berputar 3 kali di Jeroan Puri Kauhan, Ida Betara melinggih di Bale Pemiyasan/Bale Teruna. Pemangku dan Penyerati ngaturang Panyembrama berupa Reraceman dan Soda.
e. Kemudian beberapa saat dilangsungkan upacara Ngelinggihang Betara, diikuti ngaturang Canang Turunan (Menek Base). Pemangku, Prajuru Catur masedekang tegak linggih di Bale Agung. (upakara tegak linggih ini dibiarkan tetap digelar di Bale Agung sampai saat aturan pengeseh beberapa hari berikutnya).
f. Pemangku, Prajuru atur dan para Manggalaning Kerama termasuk Penyerati ngilenang “Menek Banten” Piodalan, mulai dari Pura Kanginan (Siwa), Pura Kadia, Pura Kauhan (semua plinggih). Aturan ditujukan kepada Mulu Kadia berlangsung sehari dua hari sampai Ida Betara menerimanya (dahulu dengan perantaraan Dasaran). Sekarang karena sudah jarang ada “Anak Rawuh”, setelah 2 kali menbenang/mepek, dianggap sudah selesai.
g. Kerama Pura ngayah mempersiapkan upakara “pengeseh aturan” antara lain berupa guling, gayah dan selanggi (bahan selanggi adalah daging guling terdahulu yang disurud di upakara angsagan). Semua aturan di pelinggih-pelinggih diganti dengan yang baru. Pemangku, Prajuru Catur dan Penyerati masedekang aturan satu per satu disemua pelinggih, dilanjutkan nganteb Selanggi di Bale Agung.
h. Ada aturan yang disebut “Aturan Mulu Kangin”, terletak disebuah angsagan tinggi, ditujukan kehadapan “Betara Kawitan/Dalem/Siwa/Surya yang disertai pula dengan upakara mepek/menbenang. Yang memutuskan/berwenang menerima aturan ini adalah Betara Aji Gede, yang diikuti Ida Betara mapica/ mapisusuk. Sesudah itu satu persatu Ida Betara keantukang (upacara “Numbak Dewa”). Dalam pelaksanaan-nya, seorang Teruna memegang sebuah Gelagar berisi Tetabuhan, sambil menari melagukan Kidung Sakral berjalan menuju Bale Teruna, dimana Pemangku memegang “Tapaan” menjawab dengan Kidung juga. Setelah dekat tetabuan dituangkan di pojok Bale Teruna.
i. Segenap umat penyungsung ngaturang Bakti bersama, mulai di Pura Kanginan, Pura Kadia dan terakhir di Pura Kauhan, diikuti dengan acara nunas tirta wangsuhpada/kekuluh dan mebasma bertempat di Jabaan Pura Kauhan.
j. Berikutnya pelaksanaan upacara “Kincang-kincung”, dimana seorang petugas khusus (warisan fungsional) berpakaian Pujut Aya (pakaian perang), memikul tegen-tegenan yang digantungi kepala Kijang (Itik), nyelet madik berjalan gagah mengelilingi Bale Agung 3 kali.
Kincang-kincung ini bermakna menuntun kembali para iringan Batara maluaran.
k. Prajuru (Pasek) memukul kentongan di Bale Agung untuk memanggil semua Kerama Pura berkumpul. Empat (4) orang teruna membawa gelagar dari setiap sudut/pojok menari sambil mekidung, berhadapan dengan Prajuru Catur, masing-masing memegang “tapaan” tetabuhan, membalas dengan kidung sakral. Metabuh dimulai dari pojok Timur Laut oleh Pasek, di sudut Barat Laut oleh Kabayan, di Pojok Barat Daya oleh Penyarikan, dan di Pojok Tenggara oleh Kesinoman. Upakara ini disebut “Numbak Desa”.
l. Dilanjutkan dengan upacara “Ngabuang”. Deha Teruna masing-masing menjungjung selangi dari Bale Teuna berlari berkeliling 3 kali di seputar Pura Kauhan, berakhir dengan sorak sorai sambil melemparkan selangi ke uadara. Kemudian hal yang sama dilakukan pula oleh Kerama Pura Lanang, bertempat dipelataran Bale Agung di bawah pimpinan Pasek. Masing-masing mengambil selangi di Bale Agung, menari menghadap Utara, tiba-tiba berbalik, bersorak sambil melemparkan selangi ke udara dan terus berlari memegangi Bale Agung.
Konon ini bermakna sebagai tanda suka cita umat menerima Pican Ida Betara dan sebagai suatu tekad untuk tetap melestarikan adat/tradisi yang diwarisi (berebutan memegang Bale Agung).
m. Upacara Ngelebar dilaksanakan oleh Pemangku, Prajuru Catur, serta semua petugas upacara yang lain lanang istri, bersama-sama ngaturang Daksina Pengelebar di Jaba / dekat Pemedalan Pura Kauhan. Maknanya mohon maaf jika ada kesalahan dalam pelaksanaan upacara piodalan dan mohon Ida Betara kembali ke tempat asalnya.
n. Setelah 3 (tiga) hari Upacara Ngelebar, dilakukan upacara “Melayagin”, dilanjutkan dengan penyimpanan alat-alat upacara (busana, tedung, pengawin, lelontek, dll)
o. Setelah 42 (empat puluh dua) hari Ngelebar, diadakan upacara “Nunjel Penjor”, semua sampah bekas upacara, gantung-gantungan, penjor dikumpulkan dan semuanya diupacarai, setelah diuparai lalu dibakar sampai habis.
p. Selesailah rangkaian upacara piodalan secara keseluruhan, yang akan berulang kembali 6 (enam) bulan kemudian.
IV. KEPENGURUSAN PURA
1. Latar Belakang Kepengurusan Masa Lampau
a. Kepengurusan Pura masa lampau berpijak tradisional ritual, dalam bentuk dan susunan yang disebut “Perajuru Catur”, yang terdiri atas unsur-unsur : Pasek, Kebayan, Penyarikan dan Kesinoman. Unsur Pasek sebagai Top Leader yang berfungsi “Macekin”, unsur Kebayan sebagai Perlengkapan yang berfungsi sebgai “Juru Tampah”, Unsur Penyarikan sebagai Sekretaris yang berfungsi sebagai “Juru Pinget” dan Unsur Kesinoman sebagai Humas yang berfungsi sebagai “Juru Arah”.
Konon selain Perejuru Catur masih ada penambahan 4 (empat) unsur fungsional khusus, sehingga dikenal adanya “Pengurus Kutus”
Personalia Perejuru Catur ini berdasarkan keturunan, bakat yang bersifat fungsional, jadi bukan yang satu lebih tinggi dari yang lain, melainkan saling mengisi sesuai dengan bakat/kemampuan masing-masing dalam hubungan kesatuan yang selaras dan harmonis.
b. Kepengurusan tradisional fungsional itu telah berjalan dari generasi ke generasi dalam kurun waktu beberapa dasa warsa dan berhasil menegakkan kepasekan Tohjiwa Wanagiri dengan segala kebesaran dan kekurangannya. Kita yang ada sekarang patut “asung prama suksma” atas darma bakti para pendahulu kita.
c. Sesudah Indonesia merdeka pada tahun 1945, sesuai dengan tuntunan zaman saat itu terbentuk Kepengurusan Pura dengan susunan Ketua, Sekretaris, Bendahara dan Seksi-seksi. Eksistensi Prajuru Catur/Pengurus Kutus tetap ada, khususnya menonjol di bidang ritual / upakara sampai sekarang ini.
d. Kepengurusan Pura yang sekarang ini lahir sekitar bulan Mei 1993, dengan motivasi untuk mengupayakan keadaan yang lebih baik dari pada sebelumnya dengan memperhatikan situasi dan kondisi yang berlaku.
2. Program kerja yang telah/sedang dilaksanakan, adalah :
a. Bidang Administrasi
1. Pendataan Penyiwi Pura yang berdomisili di luar Desa Wanagiri.
2. Membuat catatan tentang urut-urutan pailen upacara piodalan dan alat/bahan-bahan yang diperlukan.
3. Membuat buku Inventaris Pura
4. Membuat pertanggung-jawaban keuangan tertulis.
5. Pemasangan Papan Pura.
6. Memberikan jadwal khusus kebaktian para penyiwi.
b. Bidang Spritual Keagamaan
1. Meningkatkan keimanan umat kepada Ida Sahyang Widhi Wasa dengan cara mengadakan acara Dharmawecana dalam upacara piodalan (Fungsionaris Parisada/Pengurus Pura)
2. Mengatur pelaksanaan sembahyang bersama umat berdasarkan ketentuan Parisada. (Tri Sandhya, Panca Sembah).
3. Mengadakan persembahyangan hari Purnama dan Tilem.
c. Bidang Keuangan
1. Memungut Urunan Wajib (Pekandel, Penyiwi).
2.
d.
Belum selesai…………..